Sabtu, 17 Agustus 2013

6 Tips Agar Bisnis E-Commerce Berhasil

www.marketing.co.id –Banyak masyarakat saat ini yang mulai menjalankan bisnis online, dikarenakan perkembangan di Indonesia untuk bisnis ini sangat menjanjikan sekali. Transaksi online disebut e-commerce sudah menjadi era dan trend saat ini. Maka banyak sekali masyarakat yang mencari tips bisnis online yang mudah dimengerti.

Perlu diketahui juga untuk pasar di Indonesia diperkirakan mencapai 250 juta jiwa, dengan 15-20% menyentuh internet. Ini menjadikan Indonesia sebagai market yang sangat potensial. Namun, untuk menjalankan bisnis ini tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan.

Maka baru-baru ini dalam seminar Frontier Marketing Club (FMC) Irwan Hartanto selaku Ex Executive High Tech Dot Com Companies memberikan trik bagaimana supaya menjalankan E-Commerce menjadi berhasil.
Berikut cara-caranya:

1. Ide/ Idea
Sebelum memulai bisnis ini, Anda harus menentukan ide terlebih dahulu.  Biasanya seseorang yang akan memulai bisnis online, menentukan idenya sesuai dengan hobi atau sesuatu yang disukai.

Langkah pertama buat daftar hal apa saja yang Anda sukai atau hobi lalu sortir sehingga menjadi pilihan yang tepat bagi Anda.

2. Analisa / Analysis
Lakukan analisa produk Anda, apa yang bisa Anda jual sesuai dengan  bisnis yang telah ditentukan. Misalnya, Anda hobi bermain bulutangkis, lakukan riset produk apa yang bisa Anda jual yang berkaitan dengan olahraga bulutangkis ini. Contohnya, tentu saja Anda bisa menawarkan raketnya dengan harga murah dan bahkan kaosnya.

3. Tindakan/ Action
Cara yang ketiga adalah melakukan tindakan atau action apa yang sudah kita programkan untuk melakukan bisnis online ini. Lakukanlah yang terbaik dan yakinkan bahwa pilhan Anda sudah mantap untuk memilih ide ini.

4. Iklan/ Advertising
Dalam dunia bisnis perlu juga untuk mengiklankan apalagi dalam bisnis online ini. Produk Anda tidak akan dikenal oleh orang lain tanpa mengiklankan. Banyak cara saat ini untuk mengiklankan suatu produk, salah satunya di Facebook, Twitter, dan bahkan di Google.

5. Loyalitas Referensi/ References
Dalam membangun bisnis online loyalitas referensi ini sangat penting sekali, karena akan menentukan kepercayaan bagi para konsumen yang mau membeli produk Anda. Apa saja referensi yang harus disiapkan oleh pebisnis online.
  • Harus ada kantor
  • Ada nomor telepon yang bisa di hubungi
  • Alamat website
  • Alamat e-mail
Dengan referensi ini minimal ada komunikasi antara Anda dan konsumen

6. Duplikasi/ Repeat Order
Dalam poin ke enam ini tidak kalah pentingnya, yakni dupilkasi atau repeat order yang harus  dijaga loyalitas mereka sehingga mereka tidak dikekecewakan dengan bisnis yang Anda kelola.

Memang untuk membangun kepercayaan merupakan modal penting dalam proses ekspansi di jalur ini. Pasar yang besar didukung dengan media promosi dan pemasaran produk yang tepat, serta menjadi penjual terpercaya tentunya menjadi tantangan tersendiri  di dunia e-commerce ini. (Hernawan)

Tips Mendorong Konsumen Agar Memberikan Ulasan

Tips Mendorong Konsumen Agar Memberikan UlasanUlasan online adalah komoditas berharga bagi bisnis apapun. Namun, meminta ulasan dari pelanggan bisa menjadi hal yang rumit. Dalam banyak kasus, rintangan terbesar yang dimiliki oleh perusahaan kecil terkait ulasan online bukanlah ulasan negatif, tapi bagaimana agar konsumen mau memberikan ulasan.

Berikut tips mendorong konsumen agar mau memberikan ulasan:

Buatlah penulisan ulasan semudah mungkin
Konsumen biasanya tidak mencari cara agar bisa memberikan ulasan untuk perusahaan kita, kecuali mereka memiliki pengalaman tidak enak yang ingin dibagikan. Oleh karena itu, kita harus mempermudah konsumen untuk memberikan ulasannya. Cantumkan direct links ke profil ulasan di berbagai tempat, misalnya pada ucapan terima kasih atau follow-up email.

Hadirlah di berbagai situs ulasan
Tiap orang memiliki preferensi situs ulasan masing-masing. Hadir dalam setiap situs ulasan bisa membuat konsumen nyaman dan mempermudah mereka untuk meninggalkan komentar. Contoh situs ulasan antara lain Google Local, Yahoo Local, LinkedIn, TrustLink, dan sebagainya.

Mintalah konsumen untuk meninggalkan ulasan di situs favorit mereka, tapi jangan paksa mereka untuk menulis di banyak situs.

Terbukalah
Jangan malu untuk meminta ulasan secara langsung kepada konsumen karena itu adalah bagian dari bisnis. Kita bisa mengatakan, “Pendapat Anda penting bagi kami. Kami sangat mengapresiasi jika Anda mau meluangkan sedikit waktu untuk memberikan ulasan.”

Pertimbangkan faktor demografi
Jika konsumen kita adalah generasi millennium, mereka sudah terbiasa berbagi pengalaman secara online dan biasanya akan senang hati berbagi pendapat tanpa perlu banyak dorongan. Namun, apabila pelanggan kita berusia 30 tahun ke atas, membombardir mereka dengan permintaan ulasan hanya akan menurunkan hasrat mereka. Nah, untuk konsumen muda yang kurang gaul di media sosial, mereka mungkin membutuhkan sedikit dorongan agar mau memberikan ulasan.

Ubah pengunjung menjadi brand ambassador
Ulasan positif bagus untuk bisnis kita, namun nilai sesungguhnya terletak pada si pengulas. Kita bisa meminta pelanggan kita untuk membuat video ulasan dan mem-posting-nya di situs kita. Tak ada yang lebih baik daripada sebuah video yang diproduksi dengan baik dari pelanggan yang sebenarnya.

Jangan abaikan ulasan negatif
Tujuan kita adalah untuk mengumpulkan ulasan baik, namun kita mungkin akan mendapatkan satu atau dua ulasan negatif. Ulasan negatif tidak selalu bisa membunuh sebuah bisnis, namun cara kita menangani situasi buruklah yang menentukan. Dengarkan dan atasi ulasan negatif. Dengan begitu kita berpeluang mengubah pelanggan yang kecewa menjadi brand advocate.

Pada akhirnya, cara untuk mendapatkan ulasan yang baik adalah dengan menawarkan produk dan pengalaman konsumen yang hebat. Jika bisa melakukan semua itu, maka kita bisa menciptakan pengalaman luar biasa bagi pelanggan.
Sumber: Mashable

Bad Review is Good

Banyak retailer yang gentar dengan komentar-komentar negatif di situs atau blog mereka. Komentar negatif yang masuk langsung disunting dan tinggallah komentar positif saja. Padahal, tahukah Anda kalau komentar negatif justru dapat meningkatkan kepercayaan dan kredibilitas retailer di mata pelanggan. Hal ini telah dibuktikan oleh sebuah penelitian terbaru.
Menampilkan kritik yang masuk mungkin bertentangan dengan nilai-nilai konvensional, tetapi riset yang dilakukan oleh Reevoo, sebuah penyedia solusi social commerce, menyatakan lain. Riset tersebut menemukan bahwa membiarkan ulasan jelek muncul di situs atau blog perusahaan membuat retailer lebih dipercaya oleh pelanggan mereka.
Dalam laporan yang bertajuk “Bad Reviews Are Good for Business”, Reevoo mengungkapkan bahwa pembeli online akan bertahan di sebuah situs ritel empat kali lebih lama ketika mereka melihat ulasan buruk ada di situs tersebut. Bukan itu saja, kemungkinan mereka mengubah kegiatan browsing menjadi pembelian akan meningkat hingga 70 persen. Luar biasa, kan?
Sebaliknya, orang-orang menjadi skeptis ketika melihat komentar di sebuah situs yang semuanya berupa pujian. Hal ini membuat pelanggan menjadi kehilangan kepercayaan sekaligus keinginan untuk berbelanja di situs tersebut. “Konsumen yang melihat ulasan negatif biasanya menjadi konsumen yang lebih baik ketimbang rata-rata pengunjung situs. Kami melihat 67 persen dari mereka melakukan pembelian. Bertentangan dengan intusi umum, komentar-komentar negatif sepertinya telah benar-benar menjadi conversion tools yang paling efektif,” kata Richard Anson, pendiri sekaligus CEO Reevoo.
Dari seluruh pembeli yang disurvei oleh Reevoo, 68 persen menyatakan lebih percaya kepada review dalam sebuah situs bila komentar yang ada berimbang antara yang positif dan negatif. Sementar 95 persen menduga adanya sensor atau review palsu bila mereka sama sekali tidak melihat adanya ulasan negatif di situs tersebut.
Dari penelitian tersebut juga terlihat bahwa pelanggan jauh lebih terikat dengan ulasan buruk ketimbang yang positif. Konsumen yang mencari ulasan negatif dua kali lebih banyak ketimbang yang hanya mencari ulasan positif.
Bukan karena mereka ingin meyakinkan diri untuk tidak berbelanja di suatu situs, tapi kerena mereka ingin menginvestigasi kualitas yang sebenarnya dari sebuah produk atau jasa.
Namun, para retailer tetap harus bijaksana menanggapi hasil penelitian ini. jangan sampai membanjiri situs Anda dengan semua komentar negatif. Monitorlah setiap komentar yang masuk dan tanggapi komentar negatif dengan bijaksana. Komentar negatif bukanlah hal yang perlu ditakuti. Bila dikelola dengan baik, hal tersebut justru dapat menjadi senjata untuk mendorong penjualan.
Jangan pernah berusaha “menipu” pelanggan. Biarkan mereka menemukan kejujuran dan semangat untuk terus memperbaiki diri. Hal itulah yang akan mendekatkan pelanggan kepada sebuah merek. (www.retailgazette.co.uk)

Dua Potensi Pelanggan Anda (2)

www.marketing.co.id - Jadi pelajaran apa yang bisa diambil?
  1. Layani SETIAP orang yang datang dan menelepon sebaik mungkin. Orang tersebut mungkin adalah pelanggan terbesar Anda selanjutnya, dan membantu Anda untuk mencapai target penjualan. Dalam dunia teknologi saat ini, penawaran bisa datang dalam bentuk email, sms, dan lain-lain. Tanganilah semua ini dengan cepat dan profesional. Suatu permintaan singkat lewat sms sama pentingnya dengan sebuah telepon dari pelanggan. Tanggapilah dengan serius. Orang tersebut mungkin saja mewakili seluruh perusahaan. Saya pernah mencoba membeli baju untuk keperluan training klien saya sebanyak 500 buah lewat sms. Tapi, jawabannya ternyata lama sekali. Saya akhirnya membeli dari toko lain yang dengan cepat menelepon saya ketika mereka menerima sms dari saya. Si penjual dari toko kedua secara cepat mendapatkan pesanan 500 buah kaos, mencapai target penjualannya dalam tiga bulan berturut-turut, dan menjadi top salesman di perusahaannya selama tiga bulan berturut-turut. Sedangkan toko pertama kehilangan penjualan 500 kaos yang setiap satuannya berharga Rp 50 ribu. Jadi, toko pertama sudah kehilangan Rp 15 juta karena mereka tidak menganggap serius pesanan 500 buah kaos lewat sms. Mereka tidak mengerti kekuatan dari NILAI POTENSIAL. Bagaimana dengan Anda?
  2. Dalam menjual, tidak ada yang namanya “penolakan”—yang ada hanya “penundaan”. Setiap penjual harus mempunyai mindset seperti ini. Hal inilah yang membedakan apakah Anda akan mendapatkan prospek atau tidak. Ketika seorang penjual merasa si pelanggan telah menolaknya, sudah wajar kita sebagai manusia merasa ditolak dan tak diterima. Terlebih lagi jika saya merasa Anda sudah menolak saya. Wajar saja jika saya ingin menjauh dari Anda. Rasanya aneh jika harus bolak-balik mendekati klien yang sudah berulang kali menolak kita. Suatu saat, saya akan berhenti menelepon dan mengunjungi Anda karena Anda sudah menolak saya. Saat saya benar-benar berhenti datang dan menelpon, saya sudah menutup segala peluang untuk mendapatkan pesanan dari Anda di masa depan. Komunikasi kita terhenti, hubungan kita tak berkembang. Berakhir sudah.
Jika Anda tetap terus memelihara kontak dengan konsisten dan tulus, pada akhirnya pasti akan membuahkan hasil. Mungkin perlu waktu satu bulan, satu tahun, bahkan tiga tahun. Tetapi, pada akhirnya Anda akan mendapatkan pesanan. Ini bukan masalah apakah iya atau tidak, tetapi lebih pada “kapan”. Saya sendiri sudah berpengalaman akan hal ini. Saya mendapatkan order untuk in-house training setelah selama enam tahun tetap memelihara kontak.
Saya mengirimkan kartu ulang tahun, tahun baru, dan Idul Fitri selama enam tahun. Hal ini memerlukan tiga kartu dalam setahun, dikali Rp 10 ribu per kartu (termasuk perangko), jadi totalnya Rp 180 ribu. Saya baru mendapatkan satu order setelah enam tahun. Lebih dari cukup untuk menggantikan 18 kartu. Dari satu order tersebut, saya mendapatkan dua order lagi untuk training. Temannya juga menghadiri training. Ia terkesan dan mengundang saya untuk mengadakan training di perusahaannya. Semua order ini datang dari 18 kartu seharga Rp 180 ribu. Biaya atau investasi? Pikirkanlah sendiri.
Cerita film Pretty Woman memberi contoh bagaimana seorang pelayan toko bisa kehilangan pelanggan baru yang sangat potensial. Mari sekarang kita membahas konsep “nilai potensial” yang juga sangat relevan dengan para pelanggan yang sudah dimiliki perusahaan Anda.
Pertanyaan:
Pada saat Anda membeli suatu produk dari pemasok baru yang belum lama Anda kenal, apakah Anda ingin langsung membeli dalam jumlah besar, atau Anda lebih suka membeli dalam jumlah kecil terlebih dahulu? Lalu, jika si pemasok ternyata bisa dipercaya, Anda pun akan meningkatkan jumlah pesanan secara bertahap. Saya yakin Anda akan memilih cara kedua.
Maka, pemesanan pertama jumlahnya pasti selalu lebih sedikit—hanya untuk mencoba. Jika puas, Anda akan memesan lebih banyak lagi. Seorang pelanggan yang baru, jarang sekali membeli dalam jumlah besar. Walau bagaimanapun, yakinlah bahwa pelanggan tersebut punya kemampuan dan potensi untuk membeli lebih banyak lagi nantinya.
Jika Anda hendak menginvestasikan uang di perusahaan investasi yang baru Anda kenal, apakah Anda menaruh semua uang Anda di sana? Kemungkinan besar tidak! Anda mungkin mau berinvestasi dalam jumlah kecil terlebih dahulu. Jika selama enam bulan, misalnya, Anda merasa pelayanan mereka memuaskan, profesional, dan bisa diandalkan, kemungkinan besar pula Anda akan menambah uang Anda di sana. Jumlah investasi awal Anda hanyalah sebagian dari seluruh uang yang bisa Anda investasikan.
Jadi, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kedua contoh di atas? Pelajarannya adalah, berapa pun jumlah atau kualitas pembelian pelanggan dari Anda, ia pasti mempunyai potensi atau peluang untuk membeli lebih banyak lagi. Hal ini sangat benar, terutama jika menyangkut pelanggan yang baru.
Jika Anda setuju dan sadar bahwa semua orang yang masuk ke toko, memesan lewat telepon, lewat email, atau sms mempunyai peluang atau potensi yang besar, bagaimana Anda memperlakukan mereka sehingga mereka bisa membeli dari Anda pada suatu saat di masa depan?
Sama halnya jika Anda setuju bahwa semua pelanggan yang sudah Anda miliki mempunyai potensi yang sangat besar untuk membeli dari Anda, bagaimana Anda memperlakukan mereka untuk meyakinkan agar mereka bisa membeli lebih banyak dari Anda nantinya?
Perusahaan dan penjual yang menyadari potensi yang besar dari semua pelanggannya dan berusaha lebih keras untuk melayani pelanggan, pada akhirnya akan menikmati hasil yang lebih baik sebagai imbalan dari kerja keras mereka. Sebaliknya, perusahaan dan penjual yang tidak demikian akan kehilangan suatu peluang yang sangat besar. (James Gwee T.H., MBA)

Selling Retail

www.marketing.co.id – Pelajari apa yang terjadi dalam keseharian tim sales force Anda. Apakah jenis yang agresif, berorietasi pada pelanggan, atau membeli karena pelanggan merasa ada suatu pelayanan total secara profesional dan terukur yang dirasakan oleh mereka? Jika jawabnya tidak mutlak “ya”, maka saatnya Anda untuk menelaah tingkat kompetensi dan efektivitas menjual ritel eceran dari para ujung tombak tadi! Bagaimana situasi yang terjadi, apakah pelanggan tidak ada transaksi dengan Anda atau success rate-nya rendah, ataukah pelanggan begitu antusias merasa diuntungkan dan ingin membeli lagi, menjadi pelanggan setia?

Mindset yang Perlu Dibongkar
Semua itu sebenarnya dapat dengan mudah dipelajari dan dilaksanakan. Hanya saja perlu dilakukan secara konsisten, bagi yang bergairah dan mampu mengerjakannya. Maka sebenarnya menjadi sales people dalam penjualan eceran (selling retail) adalah pekerjaan termudah dengan imbalan menggiurkan. Terbukti banyak sales person yang memiliki penghasilan dahsyat melebihi pofesi yang begitu menuntut pendidikan yang mumpuni dan profesional.

Banyak kegagalan sales person terjadi karena mindset mereka sangat sulit dibongkar, yaitu menganggap pelanggan sudah mengetahui kebutuhannya dengan akurat. Kalau ini benar adanya, maka sangat mubazir adanya profesi sales person di dunia ini.

Sales Profesional Menjual Produk yang Dimiliki
Ciri-ciri sales yang profesional, mereka sangat peka dan mengetahui kebutuhan pelanggan secara spesifik, dan dapat menyediakan produk yang ingin dimiliki pelanggan. Sebaliknya, para sales person yang lemah selalu akan memiliki seribu alasan karena ketidakmampuan menjual dengan mengatakan bahwa perusahaan tidak menyediakan produk yang cocok, iklan yang kurang gencar, diskon terlalu kecil sehingga kurang bersaing, kredit terlalu ketat dan kalah dengan pesaing hingga sistem insentif yang kurang menarik, dan seterusnya.

Penjual profesional yang sukses merasa pelanggannya akan lebih baik menggunakan produknya. Sebab itu, prinsip hidup dalam menjual akan sangat menarik untuk disimak, yaitu:

“Menang adalah pekerjaan yang mudah dan kalah adalah pekerjaan sulit, sukses adalah pekerjaan mudah dan menyenangkan, sedangkan gagal adalah pekerjaan sulit dan tidak menggembirakan.”

Tips Sederhana 10–3–1
Perhatikan metode 10–3–1, yaitu 10 detik tatapan pertama pelanggan Anda memberikan impresi positif dengan langkah tegap, wajah cerah, dan antusias. Ini hal penting karena kesan pertama selalu menggoda dan memberikan pintu gerbang tol untuk langkah selanjutnya. Kesan buruk menciptakan antipati, tidak ada minat dan bukan menjadi orang penting yang akan dihadapi oleh pelanggan Anda.

Maka berhati-hatilah untuk 10 detik pertama. Arena ini merupakan tiket masuk proses penjualan ke tahap berikutnya. Apa yang dimaksud dengan “3”, dalam jarak 3 meter Anda sudah harus menatap ke arah orang yang ingin dituju (pelanggan), siap menyambut dan terkesan akan memberikan keuntungan/kado sebagai tamu yang dinanti-nantikan sehingga kehadiran dalam jarak 3 meter sudah membawa aura berbeda dibandingkan dengan sales person yang lainnya.

Dan 1 meter adalah jarak komunikasi yang baik. Berikan jabat tangan yang hangat, bicara dengan volume suara yang cukup, sampaikan dialog/komunikasi penjualan secara sistematis, bicarakan topik satu per satu, sehingga mudah dipahami dan dicerna, yang tentunya akan menciptakan tingkat minat yang tinggi.

Metode sederhana 10–3–1 ini tetap perlu dilengkapi dengan penguasaan secara baik akan pengetahuan produk yang meliputi fitur produk, manfaat produk, produk unggulan dan produk komersial, juga dibungkus mental juara dan sikap sebagai pemenang!
Selamat menjual!
(Mindiarto Djugorahardjo, MBA.)

12 Alasan Mendesak Perusahaan Harus Menggunakan Media Sosial

10 Pertanda Anda Kecanduan Media Sosial
Jika Facebook adalah sebuah negara, maka Facebook akan menjadi negara  dengan penduduk terbesar ketiga di dunia setelah Cina dan India. 



Menurut Expandedramblings.com, total jumlah pengguna Facebook hingga Juni 2013 mencapai 1,11 miliar pengguna. Berikut statistik menakjubkan yang menggambarkan betapa besar kerajaan Facebook:
  • Total jumlah pengguna Facebook: 1,11 miliar.
  • Pengguna aktif harian: 665 juta
  • Total jumlah laman Facebook: 50 juta
  • Total jumlah pengguna ponsel Facebook: 751 juta
  • Total jumlah aplikasi Facebook: 10 juta
  • Total jumlah koneksi teman Facebook: 150 miliar
  • Jumlah rata-rata teman per pengguna 141,5
  • Total jumlah like Facebook sejak pertama diluncurkan: 1,13 triliun
  • Rata-rata like harian Facebook 4,5 miliar
Orang-orang ini adalah calon pelanggan potensial, dan Anda dapat menjangkau mereka di media sosial. Karena memang di situlah mereka menghabiskan waktu.
Berikut 12 alasan mendesak mengapa perusahaan harus menggunakan media sosial:

Media sosial memungkinkan Anda untuk lebih mudah mendengarkan pelanggan
Ada atau tidak adanya Anda, orang-orang tetap akan berbicara tentang bisnis Anda di media sosial. Ada beberapa sumber daya gratis yang bisa Anda gunakan seperti Google Alerts dan Twitter Search. Dua alat tersebut memungkinkan Anda melihat apa yang orang katakan tentang perusahaan Anda.

Kemampuan untuk menyoroti keberhasilan perusahaan
Dengan media sosial, Anda dapat dengan mudah berbagi informasi dengan pengikut Anda. Anda juga dapat memberitahu karyawan tentang klien dan mitra potensial. Misalnya, perusahaan telah melakukan kerja sosial membersihkan jalan raya pekan lalu.

Keberhasilan media sosial tidak terjadi dalam semalam
Mulailah sekarang juga, Anda tidak akan memiliki 1.000 pengikut atau like dalam semalam. Keberhasilan media sosial berasal dari jumlah percakapan kecil dari waktu ke waktu yang digabungkan bersama untuk menambahkan nilai.

Simpan nama perusahaan Anda
Orang lain bisa membuat akun media sosial dengan menggunakan nama perusahaan Anda. Jadi, sekalipun perusahaan Anda belum siap menggunakan situs media sosial baru seperti Google+ dan Pinterest, mendaftarkan akun perusahaan merupakan ide yang baik, sehingga Anda dapat mengamankan nama perusahaan di berbagai media sosial. Untuk menghindari kemarahan orang karena kurangnya aktivitas, Anda bisa menulis “Coming Soon” misalnya.

Media sosial adalah word of mouth
Pelanggan berbicara tentang Anda di media sosial meskipun tidak ada yang bereaksi terhadap percakapan. Biarkan orang melakukan penjualan untuk Anda. Jika Anda memberikan pelayanan yang baik maka orang akan memberitahu teman-teman mereka tentang hal itu.

Masukkan batas baru layanan pelanggan
Media sosial adalah cara baru untuk menyediakan layanan pelanggan. Ini memungkinkan orang menanyakan alamat, menceritakan kekhawatiran, atau memberikan saran dalam waktu 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Orang tidak menelepon toko ketika mereka memiliki masalah, mereka mengirim tweet.

Distribusi kupon lebih cepat, lebih murah, dan lebih efektif
Mengapa harus membuang-buang uang hanya untuk mencetak kupon ketika kita dapat mempublikasikan kupon secara gratis melalui media sosial? Memberikan kupon di media sosial memungkinkan pelanggan untuk berbagi dengan teman-teman mereka, ada kesepakatan Anda bisa go viral!

Merekrut karyawan lebih mudah
Media sosial dapat membantu perusahaan ketika merekrut karyawan baru. Anda dapat mem-posting lowongan pekerjaan di LinkedIn. Ini juga merupakan ide yang baik untuk melihat calon karyawan baru potensial sebelum Anda mempekerjakan mereka.

Partisipasi dalam media sosial GRATIS!
Membuat akun media sosial itu gratis dan bebas penggunaannya. Namun, mempekerjakan seseorang untuk mengelola media sosial perusahaan merupakan ide yang baik. Beberapa perusahaan besar seperti McDonald‘s memiliki tim untuk mengelola media sosial mereka.

Menjaga pelanggan saat ini dan mendapatkan pelanggan baru
Media sosial adalah cara yang bagus untuk mengembangkan bisnis. Anda dapat terhubung dengan pelanggan saat ini dalam sebuah platform yang biasa mereka gunakan. Selain itu, Anda juga dapat menjangkau calon pelanggan di media sosial.

Menjangkau generasi muda
Orang-orang muda ada di media sosial. Buku telepon, surat yang ditulis tangan dan surat kabar adalah semua hal di masa lalu. Jika Anda ingin menjangkau generasi berikutnya dari pelanggan dan karyawan, terlibat dengan media sosial sangatlah penting. Media sosial adalah bagaimana cara orang berkomunikasi. Jika Anda ingin menjangkau mereka. Kuasai media sosial!

Meningkatkan visibilitas perusahaan menggunakan media sosial
Keterlibatan media sosial jika dilakukan dengan benar akan mendorong perusahaan Anda menjadi pemimpin industri. Ini akan membantu Anda tidak hanya dalam meningkatkan brand awareness dan produk Anda, namun juga akan menempatkan Anda dalam posisi untuk memberikan saran kepada orang lain dalam industri Anda.
Sumber: 12most.com|Expandedramblings.com

5 Mitos Tentang Start-up dan Kebenarannya

kesalahan-startup
Kadang-kadang pengusaha dengan segudang pengalaman sekalipun memiliki keyakinan keliru tentang dunia bisnis. Jika tidak hati-hati, sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam mitos yang mengatakan bahwa perusahaan kecil pasti akan kalah saing dengan perusahaan yang lebih besar. Berikut lima kesalahpahaman paling umum tentang start-up seperti kami kutip dari Inc.com:

Mitos 1: Tidak ada pengakuan merek membuat start-up sulit menjual
Memang benar, merek yang kuat akan membuat proses penjualan lebih mudah. Namun dalam kebanyakan kasus, perbedaan antara merek baru dan bukan nyaris menghilang. Terlebih lagi, beberapa merek sudah ada yang memiliki reputasi negatif.

Kebenarannya adalah produk Anda akan menentukan merek Anda di mata pelanggan.

Mitos 2:  Pelanggan tidak percaya perusahaan baru
Track record memang memiliki nilai bagi bisnis, namun begitu juga dengan kemampuan untuk menampilkan sesuatu yang baru dan berbeda.  Perusahaan-perusahaan sukses selalu mencari sesuatu yang akan memberikan (pelanggan) mereka keunggulan kompetitif. Jika Anda dapat melakukan hal tersebut, tidak masalah apakah bisnis Anda didirikan kemarin atau tahun 1890.

Kebenarannya adalah pelanggan hanya menilai apa yang dapat perusahaan Anda lakukan, bukan kapan perusahaan berdiri.

Mitos 3: Kami terlalu kecil untuk melayani pelanggan besar.
Pikirkan ini baik-baik. Apakah Anda pernah mendapat layanan buruk dari perusahaan besar? Sebagai start-up, Anda tidak akan dibebankan dengan panjangnya birokrasi. Dengan begitu, Anda justru dapat memberikan pelayanan terbaik.

Kebenarannya adalah layanan pelanggan merupakan tentang fokus bukan ukuran.

Mitos 4: Produk belum teruji, kami akan sulit menjual
Dalam dunia bisnis yang serba cepat seperti sekarang ini, kemampuan untuk berinovasi menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya. Banyak perusahaan di luar sana yang secara terbuka mencoba hal baru.

Kebenarannya adalah jika Anda memiliki ide baik, pelanggan pun akan ada di sana.

Mitos 5: Pesaing besar akan menendang kita dari bisnis
Tentu saja hal itu bisa terjadi. Tapi hanya jika Anda gagal menawarkan sesuatu yang berbeda dari mereka. Daripada bersaing head-to-head dengan mereka, carilah pelanggan yang tidak dilayani oleh perusahaan-perusahaan besar tersebut. Bangunlah bisnis di sekitar ceruk yang mereka abaikan.

Kebenarannya, Anda bisa lebih kecil, lebih cepat, dan lebih baik.