Sabtu, 17 Agustus 2013

Dua Potensi Pelanggan Anda (2)

www.marketing.co.id - Jadi pelajaran apa yang bisa diambil?
  1. Layani SETIAP orang yang datang dan menelepon sebaik mungkin. Orang tersebut mungkin adalah pelanggan terbesar Anda selanjutnya, dan membantu Anda untuk mencapai target penjualan. Dalam dunia teknologi saat ini, penawaran bisa datang dalam bentuk email, sms, dan lain-lain. Tanganilah semua ini dengan cepat dan profesional. Suatu permintaan singkat lewat sms sama pentingnya dengan sebuah telepon dari pelanggan. Tanggapilah dengan serius. Orang tersebut mungkin saja mewakili seluruh perusahaan. Saya pernah mencoba membeli baju untuk keperluan training klien saya sebanyak 500 buah lewat sms. Tapi, jawabannya ternyata lama sekali. Saya akhirnya membeli dari toko lain yang dengan cepat menelepon saya ketika mereka menerima sms dari saya. Si penjual dari toko kedua secara cepat mendapatkan pesanan 500 buah kaos, mencapai target penjualannya dalam tiga bulan berturut-turut, dan menjadi top salesman di perusahaannya selama tiga bulan berturut-turut. Sedangkan toko pertama kehilangan penjualan 500 kaos yang setiap satuannya berharga Rp 50 ribu. Jadi, toko pertama sudah kehilangan Rp 15 juta karena mereka tidak menganggap serius pesanan 500 buah kaos lewat sms. Mereka tidak mengerti kekuatan dari NILAI POTENSIAL. Bagaimana dengan Anda?
  2. Dalam menjual, tidak ada yang namanya “penolakan”—yang ada hanya “penundaan”. Setiap penjual harus mempunyai mindset seperti ini. Hal inilah yang membedakan apakah Anda akan mendapatkan prospek atau tidak. Ketika seorang penjual merasa si pelanggan telah menolaknya, sudah wajar kita sebagai manusia merasa ditolak dan tak diterima. Terlebih lagi jika saya merasa Anda sudah menolak saya. Wajar saja jika saya ingin menjauh dari Anda. Rasanya aneh jika harus bolak-balik mendekati klien yang sudah berulang kali menolak kita. Suatu saat, saya akan berhenti menelepon dan mengunjungi Anda karena Anda sudah menolak saya. Saat saya benar-benar berhenti datang dan menelpon, saya sudah menutup segala peluang untuk mendapatkan pesanan dari Anda di masa depan. Komunikasi kita terhenti, hubungan kita tak berkembang. Berakhir sudah.
Jika Anda tetap terus memelihara kontak dengan konsisten dan tulus, pada akhirnya pasti akan membuahkan hasil. Mungkin perlu waktu satu bulan, satu tahun, bahkan tiga tahun. Tetapi, pada akhirnya Anda akan mendapatkan pesanan. Ini bukan masalah apakah iya atau tidak, tetapi lebih pada “kapan”. Saya sendiri sudah berpengalaman akan hal ini. Saya mendapatkan order untuk in-house training setelah selama enam tahun tetap memelihara kontak.
Saya mengirimkan kartu ulang tahun, tahun baru, dan Idul Fitri selama enam tahun. Hal ini memerlukan tiga kartu dalam setahun, dikali Rp 10 ribu per kartu (termasuk perangko), jadi totalnya Rp 180 ribu. Saya baru mendapatkan satu order setelah enam tahun. Lebih dari cukup untuk menggantikan 18 kartu. Dari satu order tersebut, saya mendapatkan dua order lagi untuk training. Temannya juga menghadiri training. Ia terkesan dan mengundang saya untuk mengadakan training di perusahaannya. Semua order ini datang dari 18 kartu seharga Rp 180 ribu. Biaya atau investasi? Pikirkanlah sendiri.
Cerita film Pretty Woman memberi contoh bagaimana seorang pelayan toko bisa kehilangan pelanggan baru yang sangat potensial. Mari sekarang kita membahas konsep “nilai potensial” yang juga sangat relevan dengan para pelanggan yang sudah dimiliki perusahaan Anda.
Pertanyaan:
Pada saat Anda membeli suatu produk dari pemasok baru yang belum lama Anda kenal, apakah Anda ingin langsung membeli dalam jumlah besar, atau Anda lebih suka membeli dalam jumlah kecil terlebih dahulu? Lalu, jika si pemasok ternyata bisa dipercaya, Anda pun akan meningkatkan jumlah pesanan secara bertahap. Saya yakin Anda akan memilih cara kedua.
Maka, pemesanan pertama jumlahnya pasti selalu lebih sedikit—hanya untuk mencoba. Jika puas, Anda akan memesan lebih banyak lagi. Seorang pelanggan yang baru, jarang sekali membeli dalam jumlah besar. Walau bagaimanapun, yakinlah bahwa pelanggan tersebut punya kemampuan dan potensi untuk membeli lebih banyak lagi nantinya.
Jika Anda hendak menginvestasikan uang di perusahaan investasi yang baru Anda kenal, apakah Anda menaruh semua uang Anda di sana? Kemungkinan besar tidak! Anda mungkin mau berinvestasi dalam jumlah kecil terlebih dahulu. Jika selama enam bulan, misalnya, Anda merasa pelayanan mereka memuaskan, profesional, dan bisa diandalkan, kemungkinan besar pula Anda akan menambah uang Anda di sana. Jumlah investasi awal Anda hanyalah sebagian dari seluruh uang yang bisa Anda investasikan.
Jadi, apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kedua contoh di atas? Pelajarannya adalah, berapa pun jumlah atau kualitas pembelian pelanggan dari Anda, ia pasti mempunyai potensi atau peluang untuk membeli lebih banyak lagi. Hal ini sangat benar, terutama jika menyangkut pelanggan yang baru.
Jika Anda setuju dan sadar bahwa semua orang yang masuk ke toko, memesan lewat telepon, lewat email, atau sms mempunyai peluang atau potensi yang besar, bagaimana Anda memperlakukan mereka sehingga mereka bisa membeli dari Anda pada suatu saat di masa depan?
Sama halnya jika Anda setuju bahwa semua pelanggan yang sudah Anda miliki mempunyai potensi yang sangat besar untuk membeli dari Anda, bagaimana Anda memperlakukan mereka untuk meyakinkan agar mereka bisa membeli lebih banyak dari Anda nantinya?
Perusahaan dan penjual yang menyadari potensi yang besar dari semua pelanggannya dan berusaha lebih keras untuk melayani pelanggan, pada akhirnya akan menikmati hasil yang lebih baik sebagai imbalan dari kerja keras mereka. Sebaliknya, perusahaan dan penjual yang tidak demikian akan kehilangan suatu peluang yang sangat besar. (James Gwee T.H., MBA)

Selling Retail

www.marketing.co.id – Pelajari apa yang terjadi dalam keseharian tim sales force Anda. Apakah jenis yang agresif, berorietasi pada pelanggan, atau membeli karena pelanggan merasa ada suatu pelayanan total secara profesional dan terukur yang dirasakan oleh mereka? Jika jawabnya tidak mutlak “ya”, maka saatnya Anda untuk menelaah tingkat kompetensi dan efektivitas menjual ritel eceran dari para ujung tombak tadi! Bagaimana situasi yang terjadi, apakah pelanggan tidak ada transaksi dengan Anda atau success rate-nya rendah, ataukah pelanggan begitu antusias merasa diuntungkan dan ingin membeli lagi, menjadi pelanggan setia?

Mindset yang Perlu Dibongkar
Semua itu sebenarnya dapat dengan mudah dipelajari dan dilaksanakan. Hanya saja perlu dilakukan secara konsisten, bagi yang bergairah dan mampu mengerjakannya. Maka sebenarnya menjadi sales people dalam penjualan eceran (selling retail) adalah pekerjaan termudah dengan imbalan menggiurkan. Terbukti banyak sales person yang memiliki penghasilan dahsyat melebihi pofesi yang begitu menuntut pendidikan yang mumpuni dan profesional.

Banyak kegagalan sales person terjadi karena mindset mereka sangat sulit dibongkar, yaitu menganggap pelanggan sudah mengetahui kebutuhannya dengan akurat. Kalau ini benar adanya, maka sangat mubazir adanya profesi sales person di dunia ini.

Sales Profesional Menjual Produk yang Dimiliki
Ciri-ciri sales yang profesional, mereka sangat peka dan mengetahui kebutuhan pelanggan secara spesifik, dan dapat menyediakan produk yang ingin dimiliki pelanggan. Sebaliknya, para sales person yang lemah selalu akan memiliki seribu alasan karena ketidakmampuan menjual dengan mengatakan bahwa perusahaan tidak menyediakan produk yang cocok, iklan yang kurang gencar, diskon terlalu kecil sehingga kurang bersaing, kredit terlalu ketat dan kalah dengan pesaing hingga sistem insentif yang kurang menarik, dan seterusnya.

Penjual profesional yang sukses merasa pelanggannya akan lebih baik menggunakan produknya. Sebab itu, prinsip hidup dalam menjual akan sangat menarik untuk disimak, yaitu:

“Menang adalah pekerjaan yang mudah dan kalah adalah pekerjaan sulit, sukses adalah pekerjaan mudah dan menyenangkan, sedangkan gagal adalah pekerjaan sulit dan tidak menggembirakan.”

Tips Sederhana 10–3–1
Perhatikan metode 10–3–1, yaitu 10 detik tatapan pertama pelanggan Anda memberikan impresi positif dengan langkah tegap, wajah cerah, dan antusias. Ini hal penting karena kesan pertama selalu menggoda dan memberikan pintu gerbang tol untuk langkah selanjutnya. Kesan buruk menciptakan antipati, tidak ada minat dan bukan menjadi orang penting yang akan dihadapi oleh pelanggan Anda.

Maka berhati-hatilah untuk 10 detik pertama. Arena ini merupakan tiket masuk proses penjualan ke tahap berikutnya. Apa yang dimaksud dengan “3”, dalam jarak 3 meter Anda sudah harus menatap ke arah orang yang ingin dituju (pelanggan), siap menyambut dan terkesan akan memberikan keuntungan/kado sebagai tamu yang dinanti-nantikan sehingga kehadiran dalam jarak 3 meter sudah membawa aura berbeda dibandingkan dengan sales person yang lainnya.

Dan 1 meter adalah jarak komunikasi yang baik. Berikan jabat tangan yang hangat, bicara dengan volume suara yang cukup, sampaikan dialog/komunikasi penjualan secara sistematis, bicarakan topik satu per satu, sehingga mudah dipahami dan dicerna, yang tentunya akan menciptakan tingkat minat yang tinggi.

Metode sederhana 10–3–1 ini tetap perlu dilengkapi dengan penguasaan secara baik akan pengetahuan produk yang meliputi fitur produk, manfaat produk, produk unggulan dan produk komersial, juga dibungkus mental juara dan sikap sebagai pemenang!
Selamat menjual!
(Mindiarto Djugorahardjo, MBA.)

12 Alasan Mendesak Perusahaan Harus Menggunakan Media Sosial

10 Pertanda Anda Kecanduan Media Sosial
Jika Facebook adalah sebuah negara, maka Facebook akan menjadi negara  dengan penduduk terbesar ketiga di dunia setelah Cina dan India. 



Menurut Expandedramblings.com, total jumlah pengguna Facebook hingga Juni 2013 mencapai 1,11 miliar pengguna. Berikut statistik menakjubkan yang menggambarkan betapa besar kerajaan Facebook:
  • Total jumlah pengguna Facebook: 1,11 miliar.
  • Pengguna aktif harian: 665 juta
  • Total jumlah laman Facebook: 50 juta
  • Total jumlah pengguna ponsel Facebook: 751 juta
  • Total jumlah aplikasi Facebook: 10 juta
  • Total jumlah koneksi teman Facebook: 150 miliar
  • Jumlah rata-rata teman per pengguna 141,5
  • Total jumlah like Facebook sejak pertama diluncurkan: 1,13 triliun
  • Rata-rata like harian Facebook 4,5 miliar
Orang-orang ini adalah calon pelanggan potensial, dan Anda dapat menjangkau mereka di media sosial. Karena memang di situlah mereka menghabiskan waktu.
Berikut 12 alasan mendesak mengapa perusahaan harus menggunakan media sosial:

Media sosial memungkinkan Anda untuk lebih mudah mendengarkan pelanggan
Ada atau tidak adanya Anda, orang-orang tetap akan berbicara tentang bisnis Anda di media sosial. Ada beberapa sumber daya gratis yang bisa Anda gunakan seperti Google Alerts dan Twitter Search. Dua alat tersebut memungkinkan Anda melihat apa yang orang katakan tentang perusahaan Anda.

Kemampuan untuk menyoroti keberhasilan perusahaan
Dengan media sosial, Anda dapat dengan mudah berbagi informasi dengan pengikut Anda. Anda juga dapat memberitahu karyawan tentang klien dan mitra potensial. Misalnya, perusahaan telah melakukan kerja sosial membersihkan jalan raya pekan lalu.

Keberhasilan media sosial tidak terjadi dalam semalam
Mulailah sekarang juga, Anda tidak akan memiliki 1.000 pengikut atau like dalam semalam. Keberhasilan media sosial berasal dari jumlah percakapan kecil dari waktu ke waktu yang digabungkan bersama untuk menambahkan nilai.

Simpan nama perusahaan Anda
Orang lain bisa membuat akun media sosial dengan menggunakan nama perusahaan Anda. Jadi, sekalipun perusahaan Anda belum siap menggunakan situs media sosial baru seperti Google+ dan Pinterest, mendaftarkan akun perusahaan merupakan ide yang baik, sehingga Anda dapat mengamankan nama perusahaan di berbagai media sosial. Untuk menghindari kemarahan orang karena kurangnya aktivitas, Anda bisa menulis “Coming Soon” misalnya.

Media sosial adalah word of mouth
Pelanggan berbicara tentang Anda di media sosial meskipun tidak ada yang bereaksi terhadap percakapan. Biarkan orang melakukan penjualan untuk Anda. Jika Anda memberikan pelayanan yang baik maka orang akan memberitahu teman-teman mereka tentang hal itu.

Masukkan batas baru layanan pelanggan
Media sosial adalah cara baru untuk menyediakan layanan pelanggan. Ini memungkinkan orang menanyakan alamat, menceritakan kekhawatiran, atau memberikan saran dalam waktu 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Orang tidak menelepon toko ketika mereka memiliki masalah, mereka mengirim tweet.

Distribusi kupon lebih cepat, lebih murah, dan lebih efektif
Mengapa harus membuang-buang uang hanya untuk mencetak kupon ketika kita dapat mempublikasikan kupon secara gratis melalui media sosial? Memberikan kupon di media sosial memungkinkan pelanggan untuk berbagi dengan teman-teman mereka, ada kesepakatan Anda bisa go viral!

Merekrut karyawan lebih mudah
Media sosial dapat membantu perusahaan ketika merekrut karyawan baru. Anda dapat mem-posting lowongan pekerjaan di LinkedIn. Ini juga merupakan ide yang baik untuk melihat calon karyawan baru potensial sebelum Anda mempekerjakan mereka.

Partisipasi dalam media sosial GRATIS!
Membuat akun media sosial itu gratis dan bebas penggunaannya. Namun, mempekerjakan seseorang untuk mengelola media sosial perusahaan merupakan ide yang baik. Beberapa perusahaan besar seperti McDonald‘s memiliki tim untuk mengelola media sosial mereka.

Menjaga pelanggan saat ini dan mendapatkan pelanggan baru
Media sosial adalah cara yang bagus untuk mengembangkan bisnis. Anda dapat terhubung dengan pelanggan saat ini dalam sebuah platform yang biasa mereka gunakan. Selain itu, Anda juga dapat menjangkau calon pelanggan di media sosial.

Menjangkau generasi muda
Orang-orang muda ada di media sosial. Buku telepon, surat yang ditulis tangan dan surat kabar adalah semua hal di masa lalu. Jika Anda ingin menjangkau generasi berikutnya dari pelanggan dan karyawan, terlibat dengan media sosial sangatlah penting. Media sosial adalah bagaimana cara orang berkomunikasi. Jika Anda ingin menjangkau mereka. Kuasai media sosial!

Meningkatkan visibilitas perusahaan menggunakan media sosial
Keterlibatan media sosial jika dilakukan dengan benar akan mendorong perusahaan Anda menjadi pemimpin industri. Ini akan membantu Anda tidak hanya dalam meningkatkan brand awareness dan produk Anda, namun juga akan menempatkan Anda dalam posisi untuk memberikan saran kepada orang lain dalam industri Anda.
Sumber: 12most.com|Expandedramblings.com

5 Mitos Tentang Start-up dan Kebenarannya

kesalahan-startup
Kadang-kadang pengusaha dengan segudang pengalaman sekalipun memiliki keyakinan keliru tentang dunia bisnis. Jika tidak hati-hati, sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam mitos yang mengatakan bahwa perusahaan kecil pasti akan kalah saing dengan perusahaan yang lebih besar. Berikut lima kesalahpahaman paling umum tentang start-up seperti kami kutip dari Inc.com:

Mitos 1: Tidak ada pengakuan merek membuat start-up sulit menjual
Memang benar, merek yang kuat akan membuat proses penjualan lebih mudah. Namun dalam kebanyakan kasus, perbedaan antara merek baru dan bukan nyaris menghilang. Terlebih lagi, beberapa merek sudah ada yang memiliki reputasi negatif.

Kebenarannya adalah produk Anda akan menentukan merek Anda di mata pelanggan.

Mitos 2:  Pelanggan tidak percaya perusahaan baru
Track record memang memiliki nilai bagi bisnis, namun begitu juga dengan kemampuan untuk menampilkan sesuatu yang baru dan berbeda.  Perusahaan-perusahaan sukses selalu mencari sesuatu yang akan memberikan (pelanggan) mereka keunggulan kompetitif. Jika Anda dapat melakukan hal tersebut, tidak masalah apakah bisnis Anda didirikan kemarin atau tahun 1890.

Kebenarannya adalah pelanggan hanya menilai apa yang dapat perusahaan Anda lakukan, bukan kapan perusahaan berdiri.

Mitos 3: Kami terlalu kecil untuk melayani pelanggan besar.
Pikirkan ini baik-baik. Apakah Anda pernah mendapat layanan buruk dari perusahaan besar? Sebagai start-up, Anda tidak akan dibebankan dengan panjangnya birokrasi. Dengan begitu, Anda justru dapat memberikan pelayanan terbaik.

Kebenarannya adalah layanan pelanggan merupakan tentang fokus bukan ukuran.

Mitos 4: Produk belum teruji, kami akan sulit menjual
Dalam dunia bisnis yang serba cepat seperti sekarang ini, kemampuan untuk berinovasi menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya. Banyak perusahaan di luar sana yang secara terbuka mencoba hal baru.

Kebenarannya adalah jika Anda memiliki ide baik, pelanggan pun akan ada di sana.

Mitos 5: Pesaing besar akan menendang kita dari bisnis
Tentu saja hal itu bisa terjadi. Tapi hanya jika Anda gagal menawarkan sesuatu yang berbeda dari mereka. Daripada bersaing head-to-head dengan mereka, carilah pelanggan yang tidak dilayani oleh perusahaan-perusahaan besar tersebut. Bangunlah bisnis di sekitar ceruk yang mereka abaikan.

Kebenarannya, Anda bisa lebih kecil, lebih cepat, dan lebih baik.

3 Hal yang Bisa Dipelajari Bisnis Kecil Dari Kegagalan Produk Google

3 hal yang bisa dipelajari bisnis kecil dari kegagalan GoogleGoogle Reader adalah produk yang terakhir dinonaktifkan oleh Google, setelah banyak produk lainnya dinonaktifkan. Google juga sebelumnya pernah mencoba masuk ke media sosial dengan produk Google Buzz yang termasuk progam dinonaktifkan.

Namun yang sebenarnya, kegagalan adalah krusial bagi keberhasilan semua perusahaan, besar dan kecil. Mantan CEO Google, Eric Schimdt terkenal dengan kata-katanya “we celebrate our failures”. Bisnis kecil pun bisa ikut merayakan kegagalan.

Berikut tiga hal yang bisa dipelajari bisnis kecil dari kegagalan produk Google.

Perusahaan harus fokus pada hal terbaik yang bisa dilakukan
Kita tak bisa menyenangkan semua orang setiap saat dan di dalam dunia bisnis kita tak bisa melakukan segalanya. Mempunyai terlalu banyak produk merupakan distraksi bagi inti bisnis kita.

Jika kita tak bisa menjelaskan apa perusahaan kita dalam satu kalimat, kita mungkin mencoba terlalu banyak hal. Pelanggan cenderung menyukai perusahaan yang melakukan satu hal dengan sangat baik.

Ketika kita sudah menemukan apa produk yang bisa diberikan, maka kita harus memberikan semua fokus untuk itu agar sukses

Hentikan usaha yang tak begitu sukses, manfaatkan sumber daya
Dengan fokus, kita bisa menggunakan sumber daya untuk mengembangkan produk atau layanan inti perusahaan kita.
Bagi perusahaan teknologi, ini berarti perkembangan dan sumber daya teknis bisa memfokuskan waktu berharga mereka untuk proyek yang prospektif. Ini juga berlaku bagi jenis bisnis lain yang mungkin kita jalankan.

Kita memiliki jumlah karyawan dan waktu kerja yang terbatas. Sangat praktis apabila karyawan kita bisa memanfaatkan waktu dan tenaga untuk proyek yang akan berkontribusi pada laba.

Kegagalan adalah peluang belajar
Ketika menjalankan bisnis kecil, akan mudah bagi kita kehilangan perspektif. Larry Kim, CTO WordStream mempercayai hal itu. Terkadang ia merasa memiliki jutaan dolar dan di lain waktu ia merasa berutang jutaan dolar. Tapi menurutnya, hal baik dari kegagalan adalah adanya peluamg pelajaran berharga yang merupakan salah satu aspek menyenangkan dari menjalani bisnis dan memotivasi dirinya untuk menjadi lebih baik.

Google mencoba dan gagal dalam banyak hal dan kegagalan ini membantu mereka mencapai posisi seperti pada hari ini. Jika Google takut untuk mencoba dan gagal, mungkin kita tidak akan pernah mempunyai Gmail atau Google Maps.
Sumber: Smallbiztrends

8 Cara Kembangkan Otak Kanan

Pernahkah kita (bahkan sering) tidak percaya diri bahwa kita KREATIF? Itu hanyalah anggapan yang justru menenggelamkan kepercayaan diri kita untuk bertindak kreatif!  Berpikir dan bertindak kreatif adalah suatu upaya untuk menggunakan otak kanan (hemispher otak sebelah kanan) secara lebih aktif. Selama ini, kebanyakan orang hanya menggunakan otak kiri-nya yang berkaitan dengan bahasa, logika, dan simbol simbol dan diarahkan pada pemikiran linear dan vertical (dari satu kesimpulan logis ke kesimpulan logis lainnya). Secara lebih seimbang, otak kanan yang berkaitan dengan fungsi-fungsi emosi, intuitif, dan spasial serta bekerja berdasarkan kaleidoskop dan berpikir lateral (mempertimbangkan masalah dari semua sisi dan sampai pada hal yang berbeda) merupakan bagian otak yang berperan penting dalam kreatifitas.
Otak kanan akan menghasilkan pemikiran-pemikiran yang tidak konvensional, tidak sistematis, dan tidak terstruktur. Hal ini tidak berarti hasil pemikiran otak kanan merupakan sesuatu yang sembarangan, namun hasil pemikiran otak kanan berkaitan dengan sesuatu yang baru, yang tidak biasa, dan berbeda dari apa yang ada sebelumnya.
Berikut 8 cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan otak kanan:
  1. Selalu bertanya; “Apakah ada cara lain..??” “Dengan begitu, otak kita dipacu untuk mencari alternative-alternatif terbaik!”
  2. Menentang kebiasaan, rutinitas, dan tradisi. “nih dia gan,, wajar aja seorang entrepreneur pasti punya latar belakang yang tidak biasa dan menentang tradisi!”
  3. Memainkan permainan – permainan mental, berusaha melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Ayo gan main rubik! Ngelatih otak n emosi banget tuh!”
  4. Menyadari bahwa ada lebih dari 1 jawaban yang benar. “Ini gak boleh dilakukan bagi anak SMA yang sedang ujian pilihan ganda! Karena hanya; PILIHLAH SATU JAWABAN YANG BENAR!”
  5. Melihat masalah sebagai batu loncatan untuk menemukan ide-ide baru. “Kalau dapet masalahnya terlalu banayak dan berat, berarti sedang di Uji sama yang DI ATAS! Mending segera tobat n banyak berdo’a deh.. hehe”
  6. Melihat kesalahan dan kegagalan sebagai sarana untuk memperoleh keberhasilan. “Jangan dikit – dikit ngeluuuuuuuuh aja kerjaanya! Gak guna!”
  7. Menghubungkan ide-ide yang tidak berhubungan untuk menemukan solusi yang baru dan inovatif. “Jangankan menghubungkan ide, ber-ide aja susah.. yang ada juga copas ide!”
  8. Memiliki “keteramplian helicopter” yaitu melihat dari atas dan menyeluruh terhadap berbagai hal rutin yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian mengambil keputusan yang sesuai dengan masalah yang dihadapi.

7 Kebiasaan Orang-Orang Produktif

7 Kebiasaan Orang-Orang ProduktifTak peduli di mana pun kita bekerja, setiap orang pasti mencari cara agar lebih produktif dalam pekerjaannya. Tapi kadar kafein berlebih dan membuat daftar pekerjaan tidak membuat kita lebih dekat mencapai puncak produktivitas.

Lalu, mengapa kita semua tampak terobsesi dengan produktivitas? Ini mungkin karena kita sedang hidup dalam era digital di mana menghindari distraksi dan berusaha tetap fokus pada tugas adalah hal yang lebih sulit dilakukan daripada pekerjaan itu sendiri.

Ciptakan ruang untuk meningkatkan produktivitas dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan sebagai berikut:

Kurangi to-do list hingga separuhnya.
Menyelesaikan banyak hal selama hari kerja bukan berarti menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan setiap delapan jam kerja. Mengurangi to-do list hingga separuhnya adalah pendekatan yang bisa kita lakukan. Fokus dan selesaikan pekerjaan-pekerjaan yang paling penting lebih dulu.

Istirahat
Kelelahan pada otak setelah beberapa jam kerja adalah pertanda bahwa kita harus beristirahat. Otak kita telah menggunakan energinya. Oleh karena itu, berisitirahat memberikan momen untuk penyegaran. Berjalan-jalan sejenak, makan siang atau ngemil, atau sekadar meditasi untuk menyegarkan otak.

Ikuti aturan 80/20.
Hanya 20% dari apa yang kita lakukan setiap harinya memproduksi 80% hasil. Kurangi hal-hal tidak penting – yang memiliki efek kecil pada keseluruhan produktivitas – selama hari kerja.

Gunakan pagi hari untuk fokus pada diri Anda
Memulai pagi dengan memeriksa email dan kalender adalah pembunuh produktivitas. Kebiasaan ini memberikan pihak lain peluang untuk mendikte kita. Mulailah hari dengan sarapan yang baik, membaca berita, bermeditasi, atau berolahraga ringan. Kebiasaan ini bisa memberikan energi yang cukup untuk mengawali hari.

Selesaikan tantangan sebelum makan siang
Selesaikan tantangan pekerjaan ketika otak masih segar. Jika kita punya janji meeting atau hal lain di luar tugas kantor, simpan kegiatan tersebut untuk sore hari. Dengan menjadwalkan hari kita seperti ini, kita akan bisa menciptakan cara baru dan lebih produktif untuk mengatur waktu.

Hentikan kebingungan antara efisiensi dengan kemalasan
Meskipun banyak orang yang tidak mau mengakuinya, tapi kemalasan adalah kontributor nomor satu hilangnya produktivitas. Bedakan antara malas dengan efisiensi dan efektivitas. Tempatkan fokus pada hal-hal yang paling penting seefisien dan seefektif mungkin.

Hentikan multi-tasking
Hentikan melakukan banyak hal dalam satu waktu. Berganti-ganti mengerjakan tugas lebih dari 10 kali dalam sehari menyebabkan penurunan rata-rata IQ 10 poin. Kerjakan pekerjaan secara lebih efektif dan efisien dengan fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu.

Sudahkah Anda memiliki kebiasaan-kebiasaan yang menunjang produktivitas? Kami tunggu pendapat Anda di kolom komentar.

Sumber: Forbes